Tampilkan postingan dengan label jika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jika. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2013

Apa Jadinya Jika Benua Tak Terpecah

Apa Jadinya Jika Benua Tak Terpecah - Konon pada masa lampau benua di bumi ini menjadi satu-kesatuan yang tidak terpecah-pecah seperti sekarang ini. Kemudian karena perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi menyebabkan benua yang dulunya menyatu menjdai terpisah-pisah sehingga menjadi beberapa bagian seperti sekarang ini.


Kemudian Apa Jadinya Jika Benua Tak Terpecah?
Sekitar 300 hingga 200 juta tahun silam, tujuh benua yang ada sekarang ini berasal dari sebuah benua sangat luas. Benua itu disebut Pangea. Beberapa bagian dari Pangea itu lalu terangkat akibat pergerakan kerak bumi. Lalu terpecah-pecah menjadi patahan atau sekarang kita kenal lempeng tektonik.

Sejumlah benua terlihat saling berpasangan antara satu dengan lainnya. Seperti permainan puzzle yang pas jika dipasangkan. Misalnya, kawasan pantai timur Amerika Selatan, bentuknya cocok jika dipasangkan dengan pantai barat Afrika.

Apa jadinya jika benua itu tidak terpecah dan berpisah satu dengan lainnya? Tentu banyak hal akan terjadi. Tapi yang hampir pasti, dunia ini akan miskin perbedaan. Kurang beragam alias homogen. Baik tumbuhan, binatang, termasuk manusia.

Teori yang kni masih diyakini banyak orang adalah nenek moyang spesies makhluk saat ini terbentuk karena isolasi geografis. Karena keterbatasan akibat isolasi itu, secara perlahan tapi pasti mengalami perubahan. Berevolusi menjadi sifat, dan bentuk baru setelah melewati tantangan alam.
Coba kita perhatikan, sebagai contoh, pulau Madagaskar yang sekarang berada di timur Afrika. Pulau luas ini adalah pecahan dari Pangea bagian selatan pada 160 juta tahun yang lalu.

Menurut Conservation International, di pulau itu, sekitar sembilan dari sepuluh jenis tumbuhan dan mamalia yang hidup, berevolusi dan tidak ditemukan di pulau manapun di atas planet ini.

Profesor ilmu bumi dari Universitas Ohio, Damian Nance, mengatakan jika Pangea tak terpecah, maka kondisi kehidupan di benua itu akan sangat panas dan gersang. "Karena ukuran Pangea sangat luas, awan basah akan hilang sebelum mencapai jarak yang jauh," kata Nance.

Pangea yang belum terpecah itu, bergerak menjauhi kutub akibat rotasi bumi. Sehingga, benua itu terpusat di sekitar ekuator, bagian planet paling panas. Pada iklim seperti itulah, reptil dapat hidup dengan baik. Misalnya dinosaurus, hidup dengan baik saat benua masih menyatu secara luas.

Jumat, 29 November 2013

Jika Sudah Tidak Ada Lagi Topeng Monyet


Aksi seekor kera saat dibawa mengamen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, . Kemacetan yang hampir selalu terjadi di Jalan dr Satrio, tepatnya di depan mal Ambasador dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengamen dengan monyetnya.

Suara gendang sudah tidak bertalu, suara kenong (alat musik dari tembaga) sudah tidak berbunyi kembali. Semua telah tergantikan dengan merdu suara biduanita yang keluar dari sound system butut.

Entah siapa yang menyanyi, lagu dangdut tersebut telah bercampur dengan nada-nada disko remix. Terajana judulnya, dengan leluasa menyambar telinga setiap pengendara yang melewati Jalan dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.

Topeng monyet tengah berevolusi. Dari berkeliling kampung ke kampung menyusuri gang-gang sempit, kini ngetem saja di tempat-tempat strategis. Dari iringan kendang dan kenong atau tete, kini diganti musik dangdut dari kaset butut.

Coba lihat di jalur hijau depan Mal Ambasador. Jejeran topeng monyet saling beradu gengsi memperebutkan iba pengendara yang lewat. Tak peduli pada cuaca terik atau mendung, bahkan gerimis.

Jumuat kemarin misalnya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Matahari masih terik. Panas menyengat tak membuat Nurhayati (8) atau sering disapa Nur, berhenti mengayunkan toples plastiknya ke arah pengendara yang lewat. Dengan ditemani kakaknya, Supriyadi (16), Nur mencari sesuap nasi demi kelangsungan hidup.

Mengamen dengan topeng monyet menjadi pilihan kakak beradik ini setelah bangku sekolah ia tinggalkan sejak setahun lalu. "Kalau tidak bergerak, mana bisa makan Bang" kata Nur.

Maka, buku sekolah dan ballpoin berganti dengan toples plastik warna coklat. Bersama monyetnya yang diberi nama Jepri, Nur dan kakaknya berbagi tugas saat mengamen. Nur bertugas menghampiri setiap pintu mobil yang berjalan merayap di tengah kemacetan. Sedangkan sang kakak menjaga sound sistem agar tetap berbunyi merdu sambil memegang tali pengikat sang monyet.

Tidak terlihat wajah malu apalagi letih dalam diri Nur dan kakaknya. Dengan sigap ia memunguti uang kertas yang dilempar dari kaca yang hanya terbuka beberapa senti. Kadang ia harus mencari kepingan logam yang jatuh di hijaunya rumput taman.

Hampir 10 jam sehari ia habiskan untuk mengamen dengan kakaknya. Mereka biasa mangkal mulai pukul 08.00. Hasilnya, lumayan untuk ukuran keduanya, Rp 60.000 sampai Rp 90.000. Bahkan kalaupun beruntung mereka bisa mendapatkan Rp 100.000. "Tapi itu jarang banget Bang," kata Nur.

Hasil jerih payah mengamen itu ternyata tidak utuh mereka terima. Sebab, monyet yang jadi teman ngamen itu ternyata mereka sewa dengan sistem komisi dari pemiliknya. Sehari mereka harus menyisihkan Rp 30.000-Rp 35.000 untuk sewa monyet. Tergantung berapa rupiah yang mereka peroleh hari ini.

Penghasilan itu juga masih harus dikurangi ongkos naik bajaj dari rumah kontrakannya di Pasar Prumpung, Jakarta Timur, ke Kuningan PP, antara Rp 10.000-Rp 15.00 sekali jalan. "Tergantung bang kalau macet bayar Rp 15 ribu kalau lancar cuman Rp 10 ribu" kata sang kakak.

Untuk menghemat, mereka biasa naik bajaj berombongan bersama sesama pengamen lain, dengan monyetnya juga tentunya. Sedangkan makan siang, mereka harus berbagi dengan sang monyet yang ternyata gemar makan tempe goreng.

Lalu berapa sisa penghasilannya? Tidak banyak ternyata. "Lumayan untuk keperluan keluarga" kata Nur tanpa bisa menjelaskan keperluan yang seperti apa.

Nur dan Supriyadi tidak sendiri mengamen dengan monyetnya di jalur hijau dr Satrio. Ada lima sampai tujuh pengamen serupa. Dengan berbagai latar belakang nasib, mereka tampil kompak dengan berbagi lahan mengamen hingga waktu sudah menunjukkan pukul 18.00.

"Saya pengin berdagang Bang" kata Nur menutup perbincangan petang kemarin sembari mengemas aneka permainan jepri. Sebuah harapan yang mungkin masih jauh dari gapaiannya...